Kamis, 08 Oktober 2009

Islam Nusantara


ISLAM NUSANTARA

Islam adalah sebuah peradaban besar yang pernah berjaya. Islam pernah menjadi bangsa adikuasa di Eropa, Afrika dan Asia. Tatkala Turki Utsmani sakit, samudera pasai menjadi penguasa bangsa melayu. Kehebatan Islam menjalar keseluruh nusantara lebih dari dua abad. Tiba-tiba Mataram, Banten, Tidore, Gowa dan Pusat Islam Nusantara lainnya menjadi boneka bangsa pendatang, Portugis dan Belanda. Setelah itu Islam Nusantara tak pernah lagi pasang sebagai sebuah peradaban yang berkuasa.
Saat itu tatkala Belanda menembaki kita denga meriam, Turki Utsmani yang mengklaim diri sebagai Khilafah tak berdaya, tak menolong nusantara. Khilafah bukanlah jimat sakti yang tak terkalahkan. Khilafahpun hanya sbuah model, sebuah ijtihad, sebuah ikhtiyar, sebuah pilihan, sebuah strategi dari niat baik, tapi, ia bukanlah pilihan tunggal dan tidak harus diper-Tuhan-kan. Islam tak memilihnya sebagai ujung dari sebuah perjuangan. Kita sedih khilafah dikalahkan sebuah negeri. Hulagu Khan membakar Baghdad, meruntuhkan dinasti Abbasiyah. Setelah Turki Utsmani tenggelam, hingga kini peradaban Islam tak tampak keluar dari posisi surutnya.
Wali songo adalah kisah luar biasa tentang sebuah peradaban. Maulana Malik Ibrahim memulai dakwah dipesisir Jawa Timur, taksampai satu abad kemudian, Sunan Giri, Sunan Kalijogo, Sunan Bonang dan lainnya berhasil memproklamirkan berdirinya Kerajaan Demak. Demak pun berdiri kokoh. Demakpun bukanlah cerita Indonesia diawal kepmimpinan Soekarno, kisah disintegrasi dan pertarungan ideology dari dalam yang gaduj dan berdarah-darah. Demak Bintoro adalah sebuah negeri baru yang semarak. Rakyat seolah-olah homogen, tak ada teriak revolusi, tak ada separatisme yang lantang. Walisongo berhasil menciptakan sebuah masyarakat baru, kebudayaan baru, jawa baru yang tak kehilangan jiwanya meski jelas ke-Islamannya.
Maka Walisongo janganlah dicela, meskipun kita mengklaim sebagai seorang aktivis dakwah yang paling hiper aktif sekalipun, sebab walau bagaimanapun kita sesama muslim, meskipun beda generasi, semua memiliki kewajiban dakwah sesuai dengan kemampuan masing-masing, dan alangkah indahnya jika para aktifis dakwah dari lintas generasi maupun yang satu generasi tersebut, memiliki kesadaran bahwa kita semua saling melengkapi dan mengisi dalam kehidupan ini.
Harakah Islam hari ini yang hidup tak lebih berbuat dari Wlisongo, harakah yang menggebu-gebu itu belum menghasilkan apa-apa seperti yang telah diperbuat walisongo -jikalau tidak mau disebut tak menghasilkan apa-apa-. Tak melahirkan masyarakat, kebudayaan, terlebih lagi Negara. Di banyak daerah, justru menghasilkan keresahan dan peraaan saling curiga –kondisi ini bertolak belakang dengan apa yang mereka lagukan-. Yang lantang hanya sebatas mimpi-mimpi, prasangka, cita-cita yang hari ini masih semu, tak ada kenyataan, harapan panjang yang terancam kelelahan dan keputusasaan.
Yang mencela Walisongo sebagian telah putus asa, meledakkan diri dan bermimpi menjadi pengantin. Kita semestinya percaya, yang putus asa, tak disambut bidadari surga dengan segera, dia harus membayar dosa putus asa, nyawa-nyawa tak berdosa, mungkin dineraka. Sebab bila kita percaya bahwa imam samudra kini telah bermesraan dngan bidadari surga yang genit itu, maka kita yang meyakininya adalah umat yang se…..tiiiiit (sensor).
(adapted from Suara Santri -IPNU Karanganyar)
Bersambung……!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar